Rabu, 13 September 2017

Kafilah FASI X LPPTKA BKPRMI Prov DKI Jakarta 2017 berangkat ke Banjarmasin Kalimantan Selatan

KAFILAH FASI X DKI JAKARTA BERANGKAT KE BANJARMASIN

Jam 05.00 WIB semua peserta dari Kafilah Prov DKI Jakarta telah berkumpul di Bandara Soekarno Hatta (Rabu 13/9/2017) untuk mengikuti Lomba Tingkat Nasional Festival Anak Shalih (FASI) X di Banjarmasin, Kalimantan. Lomba berlangsung dari tanggal 13-16 September 2017.

Peserta Kafilah, meski masih anak-anak, bahkan masih usia SD dan TK namun mereka menunjukan semangat dan optimisme.

Anak-anak memiliki kemampuan yang patut dibanggakan yang mengantarkannya sampai tingkat nasional.

Mereka didampingi oleh para pendamping yaitu orang tua serta para official.

Beberapa hari sebelumnya para kafilah telah mengikuti training center sebagai bekal untuk mengikuti kompetisi.

Kompetisi yang diikuti adalah MTQ, tahfidz, dai cilik, berkisah, terjamah lafdiyah, cerdas cermat Al-Quran, dan sebagainya.

Salah satu peserta, yaitu Putri Aisya, murid kelas 2, SD Sakinah, peserta Dai Cilik, menyatakan kegembiraannya mewakili Prov DKI Jakarta, sebab ia dapat bersilaturahmi dengan teman-teman, memperoleh ilmu, dan pengalaman.

Jam 09.00 WITA kafilah sampai ke Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalsel. Disambut oleh "Abang None" Kalsel serta perwakilan murid. Mereka menyambutnya dengan ramah.

Spanduk besar FASI X terpampang besar di Bandara Syamsudin Noor yang berisi ucapan selamat datang kepada para kafilah dari berbagai provinsi se-Indonesia.

Setelah itu, kafilah provinsi DKI Jakarta dijemput dan di antar ke penginapan, Hotel Mira Banjarmasin guna persiapan menjelang lomba FASI X.

(DAI).

Jumat, 03 Maret 2017

Desa Cipicung, Desa Panorama

DESA CIPICUNG
Desa Panorama


Hari Sabtu, jam 08.00 pagi, suasana pagi Desa Cipicung. Sinar matahari semburat dari balik Gunung Ciremai, menerangi Desa Cipicung. Cahayanya menyibak pemandangan sawah hijau di Cipicung. Letaknya di Desa Cipicung, Maja, Majalengka, Jawa Barat.

Terdengar sayup-sayup dari Masjid suara sholawat dari Ibu-Ibu Majlis Taklim seolah mengiringi para petani yang sedang membajak sawah. Shalawatnya berbunyi ya Robbibil mustofa... memberi kesan bahwa desa ini memegang teguh ajaran Islam. Syair solawat yang berisikan surga seolah bahwa indahnya bumi ini merupakan gambaran dari kenikmatan surga abadi.

Ketika memasuki desa Cipicung, anda disuguhi pemandangan warna hijau. Sawah hijau, pepohonan, perkebunan, perbukitan, dan hutan-hutan hijau.

Bukit-bukitnya menyuguhkan fatamorgana, mengantarkan pandangan mata ke atas menuju langit biru.

Pesawahan Cipicung terbentang luas, sengkedan-sengkedan seperti tangga-tangga bumi, bersambung dengan pohon menjulang, dan perbukitan laksana benteng-benteng yang kokoh.

Kebun Pinus menyuguhkan pesona wisata. Pohon-pojon tegak lurus, pemandangan alam penuh keseragaman.

Langit terlihat luas, mengajak mata manusia agar melihat ke atas, mensyukuri kelapangan hidup seperti lapangnya langit. Di Desa Cipicung sangat mudah melihat lapangnya langit, apalagi saat malam tiba maka bintang gemintang menjadi penghias utama kampung.

Bukit sangat gagah berdiri seolah memanggil orang untuk mendakinya. Menurut pandangan penulis, sangat baik jika dibuatkan akses agar orang dapat mendaki bukit dan menikmati panorama Cipicung dari ketinggian. Boleh jadi nanti dapat menjadi andalan atau destinasi wisata.

Tersedianya jalan-jalan merupakan syarat utama mempermudah akses. Sarana pendukung transportasi sangatlah penting. Di Desa Cipicung jalan sangat bagus sebab dihotmix.

Jalan mungil ukuran sekitar 4 meter membelah desa. Kondisi jalannya bagus. Letaknya sekitar 10 menit dari jalan Provinsi Jawa Barat (jalur Cikijing-Bandung).

Sumber air mudah. Pesawahan tak kesulitan air. Baik musim hujan maupun kemarau mata air selalu dipenuhi air bersih. Tak heran jika kanan-kiri desa ini banyak pesawahan dan kolam-kolam ikan.

Meski hanya berupa desa, namun memiliki bumi perkemahan sekaligus lapangan sepakbola. Bumi pramuka itu bernama Mandala Kitri. Ada sebuah tugu di atasnya terdapat buah kelapa kitri.

Di samping itu, di Desa Cipicung terdapat sekolah menengah pertama yaitu SMPN 3 Maja. Telah berdiri juga TK, Paud, dan SD Cipicung.

Cipicung identik dengan pertigaan jalan. Di sepanjang pertigaan jalan ini terdapat kantin dan toko makanan berjejer rapi guna memenuhi kebutuhan para pengguna jalan dari gunung windu, anggarawati, cieurih dan sekitarnya.

Untuk mengokohkan pendidikan agama, berdiri masjid-masjid, musola, madrasah, dan berbagai majlis taklim.

Bagi siapa saja yang berkunjung ke Desa Cipicung, tidak usah khawatir untuk makan pagi, siang, atau jajanan kuliner, sebab banyak warung untuk melayani para traveler. Banyak lokasi pemandangan yang enak diambil gambarnya oleh para potografi.

Jalan mungil Desa Cipicung, diapit oleh pemandangan sawah dan perkebunan. Mengak kita untuk mengunjunginya, sembari tafakur alam, mensyukuri karunia alam dari Allah SWT.

Sabtu, 5 Maret 2017
Penulis: Papa Putri (dudi akasyah)


Kamis, 01 September 2016

Manfaqy sabar

http://dudiakasyah.blogspot.com/2016/09/keutamaan-sabar-dudi-akasyah-mukadimah.html

Keutamaan Sabar

KEUTAMAAN SABAR Dudi Akasyah Mukadimah Seseorang yang memiliki sifat sabar berarti orang itu telah memiliki sebagian dari sifat-sifat orang yang baik kedudukannya di bumi. Orang sabar akan memiliki kedudukan yang baik di tengah-tengah masyarakat. Seseorang yang diberikan kesabaran oleh Allah berarti orang itu telah menerima pemberian yang sangat baik dan pemberian yang sangat luas dibandingkan dengan pemberian lainnya. Nabi Muhammad bersabda: Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran (HR. Bukhari Muslim) Definisi Sabar artinya menahan diri, yaitu menahan diri dari hal-hal yang tidak diridhai Allah Taala. Sabar adalah kemampuan di dalam mengendalikan nafsu yang sering membujuk dan memprovokasi. Termasuk sabar adalah (1) Menahan marah (2) Memaafkan atau memberi maaf. Di dalam semua situasi, peranan sabar sangat dibutuhkan. Di saat sempit kita membutuhkan kesabaran, demikian juga di saat lapang. Sabar di saat Sehat maupun Sakit Di saat sakit kita membutuhkan kesabaran agar tidak meratapi, putus-asa, sumpah serapah, dan sejenisnya; lebih baik diisi dengan dzikir dan berpasrah kepada Allah. Di saat sehat juga membutuhkan sabar, yaitu: tidak menggunakan sehat untuk hal yang tak ada manfaatnya, tidak merusak kesehatan, dan tidak menyalahgunakan sehat untuk maksiyat. Di saat sehat, nafsu sering menyuruh untuk berbuat dosa; hal itu dapat dicegah melalui sabar. Sabar di saat Sempit maupun Lapang Kita membutuhkan sabar di saat sedang diuji dengan sebuah kesulitan, yaitu: menjauhi putus asa, menahan marah, tidak menyalahkan orang lain, ridha atas pembagian dari-Nya, dan tidak mengumpat orang lain. Di saat lapang, kesabaran juga dibutuhkan, sebab godaan dikala sehat tak kalah banyaknya. Sabar di saat lapang berfungsi menghalau datangnya godaan-godaan tersebut. Godaan di saat miskin berupa bujukan melakukan kejahatan dan dorongan menjadi peminta-minta, keduanya (meminta-minta dan berbuat jahat) merupakan godaan di saat miskin. Ada ulama mengatakan, bahwa kesabaran di saat miskin lebih ringan dibandingkan kesabaran di saat kaya; di saat miskin yang dipikirkan hanya bagaimana mencari sesuap nasi; di saat kaya yang dipikirkan bagaimana membelanjakan kekayaan secara tepat di saat banyak godaan mengelilinginya serta menghadapi banyak orang iri dengki (banyak yang tidak lulus uji di saat seperti itu). Kunci Sabar Di dalam menjalani kesabaran, kunci utamanya yaitu menahan diri dari dorongan nafsu yang muncul dari dalam (internal) dan pengaruh dari luar (eksternal). Upaya-upaya sabar ditempuh juga melalui menjaga hati, menjaga mulut, dan menjaga tingkah-laku. Melalui sabar perilaku orang akan lebih terkontrol. Untuk menjaga kesabaran, perlu melaksanakan shalat, puasa, dzikir, membaca Al-Quran Sabar di dalam Shalat Di saat shalat kita juga membutuhkan kesabaran, seperti: menjauhi kemalasan, belajar konsentrasi, mempersiapkan diri sebelum shalat, dan menjalani shalat dengan sabar. Sabar di dalam menjauhi godaan penghambat shalat, sabar di dalam mengendalikan nafsu, sabar di dalam meningkatkan kualitas (khusyu) dan kuantitas shalat (sabar di dalam menjalani shalat 5 waktu dan berupaya menambah shalat-shalat sunah). Shalat merupakan inti dari penghambaan kita kepada Allah, oleh sebab itu setan dan nafsu selalu menghambat shalat, kita perlu sabar di dalam mempertahankan shalat. Sabar dalam ibadah Di saat akan melaksanakan ibadah, banyak godaan yang muncul, misalnya: "bujukan untuk menunda-nunda serta membikin alasan-alasan lain." Seringkali kita dilalaikan dengan berbagai kesibukan, padahal kita tahu bahwa yang tersisa dalam hidup/yang akan dibawa mati adalah ibadah, sebagaimana disampaikan dalam Al-Quran bahwa tugas manusia adalah ibadah. Kita perlu sabar dalam ibadah, ibadah merupakan prioritas utama. Kita perlu sabar di dalam mengatur kegiatan lain sehingga semua aktifitas kita bisa mendukung kegiatan ibadah. Melalui hal demikian, kita akan memiliki waktu untuk membaca Al-Quran, berdzikir, dan melaksanakan ibadah lainnya sehingga kita dapat menjalin hubungan sebaik mungkin dengan Allah Taala. Menjalankan ibadah membutuhkan kesabaran, baik di kala meraihnya maupun mempertahankannya. Percayalah, bahwa kesabaran akan berbuah kebaikan dan akan melahirkan lebih banyak kebaikan sehingga hidup kita akan lebih baik dari waktu ke waktu. Ketika manusia mati, maka semuanya akan meninggalkan kita, ibadah itulah yang akan terus menemani. Sabar hanya sebentar, setelah itu hasilnya kekal. Sabar dalam beramal Sabar dibutuhkan saat mengerjakan amal, yaitu bagaimana agar kita tekun dalam beramal. Menjalani amal setiap hari, setiap saat, setiap waktu; tentu, hal itu sangat membutuhkan sabar. Ketika kita sedekah, kita perlu sabar di dalam menyingkirkan tamak yang ada dalam diri, sabar di saat setan berbisik, atau sabar di dalam menghadapi cacian atau pujian orang-orang. Inti dari sabar dalam beramal adalah bangkit untuk berbuat kebaikan, bersedekah harta, sedekah ilmu, sedekah tenaga, sedekah doa, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya. Kita perlu sabar di dalam menunaikan amal, terus beramal meski hambatan menerjang. Buah dari kesabaran dalam beramal akan mengantarkan kita pada ketekunan di dalam berbuat baik, ketangguhan, dan kegigighan dalam beramal-salih. Eksistensi (kedudukan) manusia di tengah-tengah manusia lainnya adalah dilihat dari amal salihnya (perbuatan baiknya). Kesabaran dalam beramal akan memberikan masa depan yang sangat menggembirakan. Semoga kita diberikan oleh Allah berupa sabar, istiqamah, ikhlas, dan amalan yang diterima oleh-Nya, amin ya Rabbal 'alamin. Penutup Sabar merupakan nasihat Allah yang sering kita jumpai di dalam Al-Quran. Hal ini menunjukan bahwa dalam segala situasi, maka kesabaran senantiasa kita butuhkan. Tidak ada suatu saat yang tidak membutuhkan kesabaran. Kehidupan adalah seperti sebuah jalanan yang panjang. Bagaimana pun juga kondisi jalannya maka selalu dibutuhkan kesabaran. Demikian pula dengan kehidupan manusia, segala situasi yang yang menimpanya dibutuhkan kesabaran agar sampai ke tempat tujuan (akhirat) dengan selamat dan bahagia. Rabu, 01 Jumadil Awal 1437 H / 10 Februari 2016 M Jam 17.53 WIB ____________Mozaik Islam KEISTIMEWAAN KA'BAH Ka'bah memiliki banyak keistimewaan. Dari sekian banyak keistimewaan Ka'bah, di antaranya adalah sebagai berikut: 1. Ka'bah, merupakan tempat ibadah tertua di dunia. Direnovasi oleh Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail. Ka'bah pertama kali dibangun oleh malaikat, kemudian oleh Nabi Adam as. 2. Jarum kompas tidak berfungsi di sekitar ka'bah di saat kita menggunakannya, sebab di sana merupakan pertemuan antara kutub utara dengan kutub selatan (zero magnetism area). 3. Kota Mekkah dimana Ka'bah berada merupakan wilayah di dunia yang memiliki tingkat gaya gravitasi yang tinggi yang membuat kekebalan tubuh sangat bagus yang membuat rata-rata usia penduduk lebih panjang. Tak heran, jika anda sepulang dari tanah suci terlihat lebih muda dan muka bercahaya. 4. Kota Mekkah dan Madinah merupakan tempat yang paling terang di bumi, hal ini setelah diamati dari ruang angkasa. Bahkan, empat astronot Rusia Andrey Borisenko, Alexander Samokutyaev, Anton Shkaplerov, serta penerjemah mereka Boris Meshcherykov, ketika berkunjung ke Lembaga Ilmu Penelitian Antariksa OASIS (PSSO) Arab Saudi pada Sabtu (10/11/2012) mengakui bahwa Kota Mekkah dan Madinah terlihat sangat terang meski gambar diambil pada malam hari (Kota New York atau Las Vegas saja gelap, pen). 5. Berdasarkan beberapa penelitian ditemukan bahwa Kota Mekkah berada tepat di tengah-tengah bumi, kota Mekkah merupakan wilayah 0 bujur sangkar. Seharusnya dasar penentuan waktu bukan di Greenwich (Inggris) tetapi Kota Mekkah. 6. Ka'bah sebagai tempat thawaf dan pusat ibadah imat Islam, dan di saat thawwaf (mengelilingi ka'bah) berlawanan dengan arah jarum jam, menjelaskan teori bahwa ketika putaran suatu energi berlawanan dengan arah jarum jam maka energi itu akan terpancar ke atas. Ditambah lagi dengan shalat selama 24 jam silih berganti di berbagai negara yang arahnya tertuju ke ka'bah akan melahirkan energi dahsyat di sekitar ka'bah, disambut dengan thawaf maka seperti mesin generator yang kekuatannya kemudian naik ke atas menuju langit, menembus alam semesta. Gerakan thawaf menunjukan rotasi. Demikian juga bumi, matahari, planet, galaksi, galaksi super cluster; semuanya berputar mengikuti aturan Tuhan. Tak dapat dibayangkan jika bumi keluar dari jalur maka tabrakan besar dan tabrakan beruntun akan terjadi menghancurkan semesta raya. Karena itu sebagai manusia, kita perlu berjalan sesuai dengan fitrah (sumber: edi abdullah, www.kompasiana.com).

Selasa, 02 September 2014

Kamis, 21 Agustus 2014

Disorientasi Demokrasi Indonesia, Realitas Rakyat Menolong Caleg


DISORIENTASI DEMOKRASI INDONESIA
Realitas Rakyat Menolong Caleg

Chairil A Adjis & Dudi Akasyah


Pragmatisme yang Berantai
Realitas menunjukan bahwa masyarakat yang mencoblos caleg memiliki paradigma "menolong caleg" agar mendapat kursi DPR/DPRD. Di sisi lain, caleg pun tidak mendidik rakyat, mereka dengan naif meminta kepada masyarakat agar memilih dirinya, slogan caleg: "berilah saya kesempatan menjadi anggota dewan." Ada juga caleg yang mengaku bahwa "ia ingin menjadi anggota dewan adalah untuk meningkatkan taraf hidupnya, ingin memperbaiki nasib (mengadu nasib), atau ingin meningkatkan status sosialnya."
Dia mengaku bahwa perkataannya itu adalah kejujuran, namun apakah tipe seperti ini orangnya yang akan memajukan kepentingan orang banyak, padahal niat awalnya saja untuk kepentingan sendiri. Jika paradigmanya demikian maka wajar jika warga ingin dibayar untuk mencontrengnya.
Sebelum caleg menjabat maka ia sudah merencanakan hal-hal apa saja yang akan dilakukan untuk mendatangkan keuntungan finansial dirinya. Mustahil ia  mampu merencanakan atau mengkonsepsikan rencana kemaslahatan bangsa.
Kenapa Caleg yang Diusung Parpol Tidak memiliki Kapasitas
Kenapa caleg yang diusung parpol tidak memiliki kapasitas? Sebab partai yang merekrut bukan memandang kapasitas caleg melainkan kepentingan pragmatis, yaitu caleg yang populer, bukan caleg yang memiliki kapasitas. Caleg memiliki popularitas dapat berdasarkan kapasitas, sensasi, artis, dan politik uang. Yang menjamur subur pada pileg sekarang adalah partai memilih sosok populer dari artis dan kalangan berduit.
Jika demikian siapa yang bisa memberikan pendidikan politik? Partai politik, bertujuan pragmatis yakni dorongan mendulang suara dengan cara instan dengan cara merekrut caleg dari kalangan berduit dan artis. Caleg tak mampu menjabarkan konsep-konsep demokrasi kepada masyarakat. Dan masyarakat (calon pemilih) memandang caleg dan politik hanya terbatas kepada menolong caleg agar duduk di kursi empuk sehingga mereka pun lebih memandang siapa caleg yang memberinya bantuan instan sebagaimana layaknya bantuan sembako dan mie instan.
Kini tidak ada lagi pihak yang dapat mengajarkan tentang konsep ilmiah dari sistem demokrasi: kepentingan jangka pendek, jangkah menengah, dan jangka panjang untuk stabilitas bangsa dan negara; semua kalangan sudah terjebak dengan sisi buruk dari demokrasi yaitu ambisi kekuasaan dan kepentingan pragmatis. Tidaklah mengherankan jika output yang ditimbulkan adalah kerusuhan, demo, dan konflik yang tak berkesudahan, di sisi lain perekonomian negara makin terpuruk, ancaman disintegrasi, dekadensi moral, dan lunturnya semangat nasionalisme. Hal inilah sebenarnya ancaman terbesar bangsa.
Sebuah negara yang disibukkan dengan urusan konflik internal maka negara itu tak akan melangkah menuju negara yang lebih baik, bahkan sebaliknya jika dibiarkan maka bersiaplah menuju jurang keterpurukan nasional.
Antar caleg satu partai saja saling sikut memperebutkan suara
Berdasarkan kesaksikan salah-seorang Caleg bernama N, dari partai D, di Propinsi Bali. Ia telah mendapatkan 1.000 suara, dan teman satu partainya bernama I mendapat 14 suara. Namun, I mengkalim dia pemenangnya padahal yang dia peroleh hanya 14, formulir C1 hasil penghitungan KPU Kabupaten dipegang caleg I. Caleg N meminta agar Caleg I membuka formulir C1 agar bisa dilihat bersama-sama namun namun I tidak mau.
Caleg N mengetahui bahwa suaranya yang awalnya 1.000 menjadi menurun ke angka 200, yang berarti ia terancam gagal menduduki kursi DPRD Kabupaten. Kasus yang menimpa Caleg N ternyata banyak menimpa caleg yang lainnya.
Proses penghitungan dimulai dari TPS, KPU Kabupaten, dan seterusnya rentan dengan campur tangan Caleg yang sangat berambisi. Ternyata Caleg harus mempersiapkan uang banyak, tidak hanya saat hajatan pencoblosan melainkan setelah pemilu selesai, caleg juga harus "mengawal" surat suara agar tidak dicuri oleh caleg lain, pengawalan dimulai dari berbagai TPS, KPU Kabupaten, KPU Propinsi, sampai pusat. Tentunya, stok uang para caleg harus tetap tersedia, untuk membiayai agar suara yang telah diperoleh tidak hilang di tengah jalan, jangan sampai kasus yang menimpa beberapa caleg terpilih yang akhirnya "gigit jari" tak jadi melenggang ke kursi dewan yang terhormat.
Politik itu bagus jika digunakan untuk mengkritisi pemimpin yang tidak adil, namun politik dapat merusak jika dilakukan terhadap pemimpin yang adil. Sebab iklim politik selalu memunculkan intrik. Sejarah menunjukkan bahwa pemimpin yang adil lebih banyak ketimbang pemimpin yang tidak adil, itulah kenapa jaman dulu peradaban lebih mudah terbentuk.
Pemilu ulang yang Merugikan
Terlepas dari kesalahan di KPU atau teknis di lapangan, bahwa pemilihan ulang telah merugikan aktifitas rakyat. Kebanyakan pemilihan ulang diakibatkan oleh kekecewaan caleg karena suaranya kalah. Kekecewaan seperti itu adalah subyektif, bukan kekecewaan orang banyak (masyarakat). Kekecewaan caleg yang merugikan rakyat
Kita lihat, ketika mereka hendak mencontreng, mereka naik ojek ke TPS, mereka mengeluarkan uang untuk sekedar mengganjal perut menunggu antrian pencontrengan, pekerjaan di sawah mereka tinggalkan, harusnya hari itu mereka memperoleh nafkah dari mata pencahariannya.
Kenapa faktor kepentingan rakyat tidak dipertimbangkan? Pencoblosan ulang itu menyita waktu rakyat yang ke sawah ladang. Jangan hanya lantaran kekecewaan atau perseteruan antar caleg maka rakyat yang dikorbankan. Kita lihat, hasilnya partisipasi masyarakat saat pencoblosan ulang sangat rendah, mereka lebih memilih bekerja untuk menafkahi keluarga, hal itu tentu lebih realistis jika kita juga diposisikan seperti mereka.
Sekarang sudah bukan saatnya lagi memperkenalkan pentingnya pemilu, sebab rakyat sudah memandang bahwa pemilu itu tak lebih dari sekedar memanggul caleg agar duduk di kekuasaan.
Kampanye yang disampaikan tentang wawasan kebangsaan dan nasionalisme tak akan berarti apa-apa, sebab "TST (tahu sama tahu) lebih bergema mengalahkan segalanya.
Misi dari pihak yang berkampanye adalah bagaimana supaya rakyat mencontreng saya, dan di sisi lain rakyat pun berpikir sumbangan materi apa yang akan Caleg berikan untuk saya. Caleg memberi “sesuatu” kepada rakyat maka rakyat pun akan memberi suara.
Warga yang mencontreng perlu diberi konsumsi?
Ada anekdot dari para warga yang hendak memilih, mereka mengatakan bahwa biasanya kalau menghadiri suatu undangan maka mereka selalu disediakan prasmanan/konsumsi. Namun jika memenuhi undangan pencontrengan tidak disediakan apa-apa. Padahal untuk menghadiri TPS mereka kadangkala datang dari kampung yang berbeda, membawa keluarga yang otomatis harus membawa uang untuk membeli jajanan. Di TPS mereka juga harus antri di tengah terik matahari, menahan haus dan lapar, apalagi di kanan kiri berjejer para pedagang.
Padahal warga sengaja datang meninggalkan pekerjaan. Pegawai negeri dan pegawai swasta memang diliburkan, tetapi mereka tetap memperoleh gaji. Kalau rakyat meninggalkan pekerjaan (berdagang/bertani/nelayan) jika meninggalkan pekerjaan maka dari mana mereka dapat makan.
Logikanya, apakah pemilih yang harus membawa bekal makanan atau konsumsi ke tempat pencontrengan, kasihan mereka haus dahaga untuk memenuhi undangan Pemilu.
Sebaliknya, para caleg, jika mereka telah duduk di kursi dewan, setiap rapat mereka disediakan konsumsi, uang rapat, gaji bulanan, berbagai fasilitas, tokh mereka tidak juga memenuhi undangan rapat, hal ini terbukti dengan ruang rapat yang kebanyakan kursi kosong melompong, padahal di tiap-tiap meja tersedia minuman segar lengkap dengan katering.
Kertas surat suara yang tidak efisien memberi efek psikologis yang kurang baik
Melihat kertas suara yang harus diisi rakyat, formnya sangat menyulitkan. Kalangan terdidik pun banyak yang menilai bahwa banyaknya partai ditambah dengan nama-nama caleg sangat tidak efisien. Jika dibaca semua maka pemilih akan stress. Hal itu diungkapkan oleh kalangan terdidik, lalu bagaimana jika dibaca oleh masyarakat awam, baik di perkotaan apalagi di perkampungan. Yang patut disalahkan, sebenarnya rakyat atau yang mengonsep (konseptor) surat suara? Adakah terpikir oleh para steakholder untuk melakukan efisiensi dan langkah-langkah memudahkan saat pencoblosan berlangsung. Terlepas dari kepentingan individu yang ada dalam tubuh setiap partai, atau kepentingan antara satu partai dengan partai lainnya, maka sangat dibutuhkan suatu misi bersama untuk mempermudah rakyat di dalam pelaksanaan pemilu, sebab jika partai dan para calegnya tidak mau tertib maka jangan disalahkan apabila masyarakat pun berlaku tidak tertib.
Rakyat ingin nyaman saat memilih
Pemilu seyogyanya menjadi hari yang menyenangkan bagi rakyat untuk memilih calon pemimpin. Namun, banyak dari mereka yang saat datang tak bisa menyalurkan hak pilihnya karena namanya tak tercantum dalam daftar pemilih. Para warga tersebut akhirnya dimohon menunggu dari jam 08.00 sampai jam 12.00 guna menyampaikan hak pilihnya.
Ada di antara mereka yang menunggu, namun banyak pula yang memilih pulang untuk melanjutkan aktifitas keseharian, ke pasar, ke kebun atau sawah ladang.
Ironis, di satu sisi banyak nama pemilih yang tercantum namun tak menggunakan hak pilihnya, dengan alasan sudah tidak berdomisili di tempat yang bersangkutan, ada juga yang meninggal dunia namun namanya masih tetap tercantum di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Ibarat mobil bis, banyak tempat duduk yang kosong, saat ada penumpang, tidak diperbolehkan masuk.
Jika partai politik atau caleg khawatir dengan "rombongan pencoblos bayaran," bukankah hal itu jarang terjadi, kalaupun antisipasi, maka KPPS dapat mengidentifikasi sebab mereka bukan warganya.
Yang banyak terjadi, namun yang hingga kini belum ada regulasi, adalah warga yang tinggal di sana dan dikenal oleh masyarakat namun mereka tidak dapat memilih dengan alasan tidak tercantum dalam DPT. Di sisi lain, KPPS tidak bisa melakukan "ijtihad/korespondensi" sebab takut dituduh menyalah-gunakan wewenang. Sebenarnya kasus "rombongan pemilih bayaran" jauh lebih sedikit frekuensinya, ketimbang kasus warga yang tidak memperoleh daftar pemilih.
Banyaknya kasus warga yang tidak memperoleh undangan patut mendapat perhatian pada pemilu mendatang.
Penyelenggara Pemilu yang Terlalu Percaya Diri
Para pembuat kebijakan lebih terpengaruh oleh opini partai atau caleg, daripada opini masyarakat.
Opini partai/caleg cenderung untuk mengawal kepentingan mereka. Rumitnya aturan pemilu lebih disebabkan oleh paranoid bahwa partainya akan dicurangi oleh partai lain sehingga dibuatlah aturan-aturan "aneh," getahnya yang dirasakan masyarakat adalah bahwa pemilu banyak aturan, rakyat bukannya difasilitasi atau dipermudah, melainkan dipersulit dan diperumit. Kenapa hal ini terjadi? Sebab pemerintah (penyelenggara pemilu) lebih mendengarkan suara caleg ketimbang suara rakyat, akibatnya rakyat dihadapkan kepada berbagai kesulitan saat pencontrengan.
Parpol hanya berkegiatan di saat Pemilu
Melihat cara kerja partai politik, mereka hanya bekerja saat menjelang pemilu (Prof. Miriam Budiarjo, 2013:398). Setelah selesai pemilu, maka partai seolah menghilang di masyarakat, kemudian muncul lagi saat akan ada pemilu. Politik yang disosialisasikan kepada masyarakat sangat mudah menjemukan, sebab politik selalu membahas kekuasaan dan perbincangan siapa yang akan duduk dan siapa yang tersingkir. Tujuan parpol adalah kekuasaan. Siapa saja mereka yang masuk parpol maka ia memiliki kans menjadi pejabat publik. Sebagaimana dikatakan Giovani Sartori bahwa parpol mampu menempatkan calon-calonnya untuk menduduki jabatan publik
 ...and is capable of placing through elections candidates for public office (G. Sartori, 1976).
Sosialisasi yang berlebihan kepada masyarakat tentang politik yang notabene bermuatan ambisi kekuasaan maka akan cepat menimbulkan kejenuhan di kalangan masyarakat (calon pemilih), sebab yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah implementasi. Yang ingin mereka rasakan adalah kesejahteraan, terjaminnya perekonomian, pendidikan, kesehatan, perlindungan hukum, dan keamanan.
Rakyat bosan memilih: Bukan pesta demokrasi tetapi beban demokrasi
Banyaknya pemilu (nasional, provinsi, kabupaten, pilihan kepala desa, dan pilihan ketua RW), dan bersebarannya spanduk/poster telah mengotori lingkungan. Secara fisik, lingkungan kotor, dan secara mental ambisi kekuasaan telah mengotori ketulusan dan keluguan masyarakat pedesaan. Sebab, poster-poster yang berfoto muka orang sebenarnya merupakan hal tabu jika bercermin kepada budaya ketimuran, jika menggunakan istilah anak sekolah, poster atau selebaran yang ada foto orang atau nama biasanya disebut "lebay" atau "narsis."
Perkampungan yang asri kini telah dikotori oleh poster dan foto, pohon-pohon rindang dipaku sebagai tempat poster. Satu pohon bisa dipaku hingga 10 poster, mulai dari poster calon Ketua RW, calon Kepala Desa, Calon Bupati, Calon Gubernur, Calon Presiden dan puluhan poster calon legislatif.
Bersebarannya poster merupakan pendidikan politik yang kurang baik, merusak keasrian, ketulusan, merusak pemandangan alam dan pemandangan hati.

Gambar partai (Surat Suara) perlu lebih disimpelkan
Berdasarkan pengamatan di lapangan, banyak dari masyarakat yang berharap bahwa gambar partai/jumlah partai disederhanakan saja agar tidak menyulitkan para pemilih.
Surat suara yang tidak efisien dapat menganggu aspirasi calon pemilih. Warna gambar yang hampir sama dapat mengelabui pemilih, serta banyak lagi efek yang kurang bagus apabila surat suara tidak disederhanakan. Logikanya, jika hanya mencontreng tiga kali, kenapa harus dihadapkan kepada 100 item yang rumit. Letaknya yang belum diketahui membuat calon pemilih terpaksa harus mengerutkan dahi berlama-lama untuk mengetahui partai yang hendak dipilih. Hal itu, belum termasuk masyarakat yang buta hurup, lanjut usia, atau yang memiliki keterbatasan penglihatan.
Setelah berakhirnya Era Orde Baru, para politisi euporia dengan kebebasan berpolitik. Warisan Orde Baru dipandang harus diganti semuanya, diganti dengan ide yang baru. Perombakan total akhirnya berakibat menyulitkan diri sendiri. Mereka yang merombak total akhirnya termenung sendiri, dan semoga nanti mereka mengevaluasi bahwa tidak semua konsep orde baru harus dihapuskan. Cukup banyak warisan pemimpin terdahulu yang perlu dipertahankan. Meskipun sebagiannya ada yang harus dihilangkan atau diperbaiki.
Banyak caleg yang divonis hakim karena politik uang
Di akhir masa pilihan legislatif (pileg), banyak caleg yang divonis bersalah di pengadilan. Hal itu berbuntut dengan didiskualifikasinya caleg untuk duduk di kursi kekuasaan. Mereka mengatakannya "apes" sebab tidak mungkin politik tanpa disertai dengan uang. Jika ditelusuri semua politisi yang berebut suara maka semuanya akan terkena jeratan politik uang. Hal ini akan menambah deretan panjang caleg stress sehingga semakin menurunkan pamor demokrasi itu sendiri.
Seharusnya Caleg lebih tahu tentang demokrasi daripada masyarakat, bukan sebaliknya.
Realitas menunjukkan bahwa banyak caleg sekarang yang diusung parpol memiliki pengetahuan politik yang sangat kurang.
Hal ini akan menimbulkan disorientasi dari demokrasi menjadi kepentingan pribadi. Keterbatasan pengetahuan tentang politik bagi caleg mengakibatkan mereka menjelma menjadi orang-orang yang ambisius dengan kekuasaan. Di sisi lain, jika tergelincir atau tidak lolos dari pileg maka mereka akan dijangkiti penyakit musiman yaitu sakit jiwa (stress). Jika melihat sepak terjang Caleg maka kini rakyat yang sebenarnya lebih tahu tentang carut marut demokrasi, mereka yang terjun di dunia politik (caleg) hanya menjadi tumbal politik.
Sebagai contoh: Ketika mereka (caleg) memberi sumbangan pengaspalan jalan kemudian ia tidak terpilih, selanjutnya si caleg memerintahkan agar aspalnya diambil lagi dan mengatakan bahwa masyarakat telah mengkhianati dirinya. Rakyat hanya bisa tertawa dan mengatakan bahwa oknum caleg telah menjadi orang gila, apa bisa aspal dicabut lagi dari jalan.
Ajang Demokrasi atau Ajang Audisi
Banyak politisi senior mengeluh sebab suara untuk dirinya jeblok dikalahkan oleh pendatang baru yang jor-joran mengeluarkan dana kampanye.
Suksesi sekarang tak ubahnya ajang audisi yang didukung oleh sms dari para pemirsa, siapa calon yang kiriman smsnya lebih banyak maka dialah pemenangnya. Kiriman sms atau perolehan suara tidak bisa dijadikan parameter kapasitas. Ada juga rakyat menolong caleg sebab kasihan ia sudah kehabisan dana, jika tidak dicontreng maka caleg itu akan stress setelah pileg.
Ada juga anggapan, bahwa caleg harus orang kaya agar banyak cadangan harta untuk membiayai dana kampanye. Apabila demikian maka politik dan kekuasaan hanya berpihak kepada orang kaya. Orang kaya akan semakin korup dan kesenjangan sosial akan semakin merusak.
Substansi pemimpin bangsa sebenarnya bukan terletak kepada faktor kaya miskin. Seorang pemimpin atau negarawan sejati adalah ia yang peduli dan bertanggung-jawab terhadap nasib bangsanya, melakukan karyanya untuk bangsa, memiliki visi dan misi yang revolusioner untuk memajukan bangsanya.
Jika diibaratkan dengan sebuah keluarga. Jika negara lain sudah dapat berbuat banyak, namun di suatu keluarga hanya berkutat kepada masalah internal yang semakin carut marut. Melihat potensi yang ada di Indonesia, hanya sistem yang perlu dibenahi, di samping pembenahan dalam bidang yang lainnya. Sumber daya alam sudah cukup, yang belum adalah optimalisasi sumber daya manusia.
Sebenarnya banyak ide brilian dari para cendikiawan, negarawan atau ilmuwan di negeri ini, namun suara ambisi kekuasaan masih jauh lebih lantang sehingga suara kebenaran, akal sehat dan inspirasi menjadi teredam dengan sendirinya.
Jargon "jangan salah-pilih" yang tidak populer
Slogan seperti itu sebenarnya kurang populer, sebab semua orang telah berasumsi bahwa setiap kandidat, baik itu caleg maupun capres; mereka adalah orang-orang terpilih. Logikanya, siapa pun yang terpilih maka hal itu adalah baik, sebab diambil dari beberapa orang yang baik.
Jika ada slogan "jangan salah pilih" maka slogan itu akhirnya bertentangan dengan asumsi di atas. Pendapat yang muncul adalah ambisi pribadi yang menganggap dirinya yang lebih pantas dan berharap dukungan dari rakyat untuk menolong si calon duduk di kursi kekuasaan.
Jika slogan "Jangan salah pilih" terbukti keberadaannya, maka berarti seleksi individu melalui mekanisme partai politik adalah telah gagal sebab parpol bukannya melahirkan pemimpin yang berkualitas melainkan hanya mampu mengirimkan kucing-kucing dalam karung sebagai kandidat pemimpin bangsa.
Kapan Politik dan Suksesi Kepemimpinan Dibutuhkan
Politik hanya efektif jika dilakukan terhadap penguasa yang zalim namun politik merupakan rencana jahat jika ditujukan kepada pemimpin yang baik.
Jika politik dijadikan satu-satunya cara dalam suatu penyelenggaraan negara maka selama itu pula negara akan labil, tidak akan pernah stabil. Sebab politik awalnya diciptakan hanya untuk instabilitas.
Politik tanpa dilembagakan juga akan tetap muncul jika yang berkuasa berlaku sewenang-wenang, namun pendirian lembaga politik akan menjadi bumerang jika ditujukan kepada kepemimpinan yang kharismatik, pro rakyat, dan stabilitas dalam segala bidang. Jika demikian maka warga yang memberinya lowongan kerja.
Kita tidak dapat melihat atau memojokkan masyarakat saja tentang fenomena rakyat ingin diberi uang dari caleg. Kenapa paradigma itu terbentu? Apa dasar pemikiran masyarakat melakukan hal demikian. Jika ditelusuri bahwa dari sebagian pemilih memandang bahwa pencoblosan (pencontrengan) mereka adalah untuk membantu caleg agar duduk di kursi kekuasaan, jika motivasinya menolong, maka perlu ada timbal balik dari yang ditolong (caleg), inilah paradigma yang berkembang. Fenomena tersebut merupakan penyelewengan dari tujuan demokrasi itu sendiri.
Sejatinya politik itu merupakan sikap yang idealis sebab ruang lingkupnya yang menyangkut hajat hidup orang banyak yang menyebabkan politik harus idealis. Namun dalam kenyataannya, politik banyak ditunggangi ditunggangi kepentingan pragmatis, baik dari calon legislatif maupun dari calon pemilih.
Berbagai pengarahan tak ada gunanya selama sistem masih bertolak-belakang dengan idealisme
Sejatinya, politik itu mengajarkan konsep yang ideal: ilmiah dan alamiah. Ilmiah, bermakna bahwa suatu kebijakan sepatutnya berdasarkan kepada aspek ilmu pengetahuan, mengingat bangsa dan negara merupakan suatu lembaga besar yang membutuhkan kebijaksanaan dan keadilan universal.
Alamiah bermakna, bahwa lahirnya sosok/calon pemimpin merupakan produk dari penggemblengan di masyarakat, lahir dari perjuangan, terobosan, inovasi yang eksistensinya diakui oleh masyarakat luas. Lawan kata dari alamiah adalah instan, apabila paradigma instan dipakai maka orang tiba-tiba bisa terkenal cukup dengan membuat 1.000 spanduk dan intensitas iklan di media massa, maka dalam sekejap orang tersebut dapat dikenal luas.
Kapasitas individu hanya dapat diperoleh melalui proses yang alamiah, mustahil bisa ditemukan dalam sistem yang instan. Sebenarnya tidak sulit untuk menelusuri siapa saja yang memiliki kapasitas pemimpin di negeri besar seperti Indonesia—tidak lebih sulit daripada quick count yang berupaya memprediksi pemilu—Jika diumpamakan kolam, banyak ikan-ikan besar yang layak mendapat perhatian dan kharismatik, namun karena air kolam dibuat keruh oleh ambisi politisi, ikan besar tak terlihat, ikan teri yang didapat.