KAFILAH FASI X DKI JAKARTA BERANGKAT KE BANJARMASIN
Jam 05.00 WIB semua peserta dari Kafilah Prov DKI Jakarta telah berkumpul di Bandara Soekarno Hatta (Rabu 13/9/2017) untuk mengikuti Lomba Tingkat Nasional Festival Anak Shalih (FASI) X di Banjarmasin, Kalimantan. Lomba berlangsung dari tanggal 13-16 September 2017.
Peserta Kafilah, meski masih anak-anak, bahkan masih usia SD dan TK namun mereka menunjukan semangat dan optimisme.
Anak-anak memiliki kemampuan yang patut dibanggakan yang mengantarkannya sampai tingkat nasional.
Mereka didampingi oleh para pendamping yaitu orang tua serta para official.
Beberapa hari sebelumnya para kafilah telah mengikuti training center sebagai bekal untuk mengikuti kompetisi.
Kompetisi yang diikuti adalah MTQ, tahfidz, dai cilik, berkisah, terjamah lafdiyah, cerdas cermat Al-Quran, dan sebagainya.
Salah satu peserta, yaitu Putri Aisya, murid kelas 2, SD Sakinah, peserta Dai Cilik, menyatakan kegembiraannya mewakili Prov DKI Jakarta, sebab ia dapat bersilaturahmi dengan teman-teman, memperoleh ilmu, dan pengalaman.
Jam 09.00 WITA kafilah sampai ke Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalsel. Disambut oleh "Abang None" Kalsel serta perwakilan murid. Mereka menyambutnya dengan ramah.
Spanduk besar FASI X terpampang besar di Bandara Syamsudin Noor yang berisi ucapan selamat datang kepada para kafilah dari berbagai provinsi se-Indonesia.
Setelah itu, kafilah provinsi DKI Jakarta dijemput dan di antar ke penginapan, Hotel Mira Banjarmasin guna persiapan menjelang lomba FASI X.
(DAI).
Rabu, 13 September 2017
Jumat, 03 Maret 2017
Desa Cipicung, Desa Panorama
DESA CIPICUNG
Desa Panorama
Hari Sabtu, jam 08.00 pagi, suasana pagi Desa Cipicung. Sinar matahari semburat dari balik Gunung Ciremai, menerangi Desa Cipicung. Cahayanya menyibak pemandangan sawah hijau di Cipicung. Letaknya di Desa Cipicung, Maja, Majalengka, Jawa Barat.
Terdengar sayup-sayup dari Masjid suara sholawat dari Ibu-Ibu Majlis Taklim seolah mengiringi para petani yang sedang membajak sawah. Shalawatnya berbunyi ya Robbibil mustofa... memberi kesan bahwa desa ini memegang teguh ajaran Islam. Syair solawat yang berisikan surga seolah bahwa indahnya bumi ini merupakan gambaran dari kenikmatan surga abadi.
Ketika memasuki desa Cipicung, anda disuguhi pemandangan warna hijau. Sawah hijau, pepohonan, perkebunan, perbukitan, dan hutan-hutan hijau.
Bukit-bukitnya menyuguhkan fatamorgana, mengantarkan pandangan mata ke atas menuju langit biru.
Pesawahan Cipicung terbentang luas, sengkedan-sengkedan seperti tangga-tangga bumi, bersambung dengan pohon menjulang, dan perbukitan laksana benteng-benteng yang kokoh.
Kebun Pinus menyuguhkan pesona wisata. Pohon-pojon tegak lurus, pemandangan alam penuh keseragaman.
Langit terlihat luas, mengajak mata manusia agar melihat ke atas, mensyukuri kelapangan hidup seperti lapangnya langit. Di Desa Cipicung sangat mudah melihat lapangnya langit, apalagi saat malam tiba maka bintang gemintang menjadi penghias utama kampung.
Bukit sangat gagah berdiri seolah memanggil orang untuk mendakinya. Menurut pandangan penulis, sangat baik jika dibuatkan akses agar orang dapat mendaki bukit dan menikmati panorama Cipicung dari ketinggian. Boleh jadi nanti dapat menjadi andalan atau destinasi wisata.
Tersedianya jalan-jalan merupakan syarat utama mempermudah akses. Sarana pendukung transportasi sangatlah penting. Di Desa Cipicung jalan sangat bagus sebab dihotmix.
Jalan mungil ukuran sekitar 4 meter membelah desa. Kondisi jalannya bagus. Letaknya sekitar 10 menit dari jalan Provinsi Jawa Barat (jalur Cikijing-Bandung).
Sumber air mudah. Pesawahan tak kesulitan air. Baik musim hujan maupun kemarau mata air selalu dipenuhi air bersih. Tak heran jika kanan-kiri desa ini banyak pesawahan dan kolam-kolam ikan.
Meski hanya berupa desa, namun memiliki bumi perkemahan sekaligus lapangan sepakbola. Bumi pramuka itu bernama Mandala Kitri. Ada sebuah tugu di atasnya terdapat buah kelapa kitri.
Di samping itu, di Desa Cipicung terdapat sekolah menengah pertama yaitu SMPN 3 Maja. Telah berdiri juga TK, Paud, dan SD Cipicung.
Cipicung identik dengan pertigaan jalan. Di sepanjang pertigaan jalan ini terdapat kantin dan toko makanan berjejer rapi guna memenuhi kebutuhan para pengguna jalan dari gunung windu, anggarawati, cieurih dan sekitarnya.
Untuk mengokohkan pendidikan agama, berdiri masjid-masjid, musola, madrasah, dan berbagai majlis taklim.
Bagi siapa saja yang berkunjung ke Desa Cipicung, tidak usah khawatir untuk makan pagi, siang, atau jajanan kuliner, sebab banyak warung untuk melayani para traveler. Banyak lokasi pemandangan yang enak diambil gambarnya oleh para potografi.
Jalan mungil Desa Cipicung, diapit oleh pemandangan sawah dan perkebunan. Mengak kita untuk mengunjunginya, sembari tafakur alam, mensyukuri karunia alam dari Allah SWT.
Sabtu, 5 Maret 2017
Penulis: Papa Putri (dudi akasyah)
Desa Panorama
Hari Sabtu, jam 08.00 pagi, suasana pagi Desa Cipicung. Sinar matahari semburat dari balik Gunung Ciremai, menerangi Desa Cipicung. Cahayanya menyibak pemandangan sawah hijau di Cipicung. Letaknya di Desa Cipicung, Maja, Majalengka, Jawa Barat.
Terdengar sayup-sayup dari Masjid suara sholawat dari Ibu-Ibu Majlis Taklim seolah mengiringi para petani yang sedang membajak sawah. Shalawatnya berbunyi ya Robbibil mustofa... memberi kesan bahwa desa ini memegang teguh ajaran Islam. Syair solawat yang berisikan surga seolah bahwa indahnya bumi ini merupakan gambaran dari kenikmatan surga abadi.
Ketika memasuki desa Cipicung, anda disuguhi pemandangan warna hijau. Sawah hijau, pepohonan, perkebunan, perbukitan, dan hutan-hutan hijau.
Bukit-bukitnya menyuguhkan fatamorgana, mengantarkan pandangan mata ke atas menuju langit biru.
Pesawahan Cipicung terbentang luas, sengkedan-sengkedan seperti tangga-tangga bumi, bersambung dengan pohon menjulang, dan perbukitan laksana benteng-benteng yang kokoh.
Kebun Pinus menyuguhkan pesona wisata. Pohon-pojon tegak lurus, pemandangan alam penuh keseragaman.
Langit terlihat luas, mengajak mata manusia agar melihat ke atas, mensyukuri kelapangan hidup seperti lapangnya langit. Di Desa Cipicung sangat mudah melihat lapangnya langit, apalagi saat malam tiba maka bintang gemintang menjadi penghias utama kampung.
Bukit sangat gagah berdiri seolah memanggil orang untuk mendakinya. Menurut pandangan penulis, sangat baik jika dibuatkan akses agar orang dapat mendaki bukit dan menikmati panorama Cipicung dari ketinggian. Boleh jadi nanti dapat menjadi andalan atau destinasi wisata.
Tersedianya jalan-jalan merupakan syarat utama mempermudah akses. Sarana pendukung transportasi sangatlah penting. Di Desa Cipicung jalan sangat bagus sebab dihotmix.
Jalan mungil ukuran sekitar 4 meter membelah desa. Kondisi jalannya bagus. Letaknya sekitar 10 menit dari jalan Provinsi Jawa Barat (jalur Cikijing-Bandung).
Sumber air mudah. Pesawahan tak kesulitan air. Baik musim hujan maupun kemarau mata air selalu dipenuhi air bersih. Tak heran jika kanan-kiri desa ini banyak pesawahan dan kolam-kolam ikan.
Meski hanya berupa desa, namun memiliki bumi perkemahan sekaligus lapangan sepakbola. Bumi pramuka itu bernama Mandala Kitri. Ada sebuah tugu di atasnya terdapat buah kelapa kitri.
Di samping itu, di Desa Cipicung terdapat sekolah menengah pertama yaitu SMPN 3 Maja. Telah berdiri juga TK, Paud, dan SD Cipicung.
Cipicung identik dengan pertigaan jalan. Di sepanjang pertigaan jalan ini terdapat kantin dan toko makanan berjejer rapi guna memenuhi kebutuhan para pengguna jalan dari gunung windu, anggarawati, cieurih dan sekitarnya.
Untuk mengokohkan pendidikan agama, berdiri masjid-masjid, musola, madrasah, dan berbagai majlis taklim.
Bagi siapa saja yang berkunjung ke Desa Cipicung, tidak usah khawatir untuk makan pagi, siang, atau jajanan kuliner, sebab banyak warung untuk melayani para traveler. Banyak lokasi pemandangan yang enak diambil gambarnya oleh para potografi.
Jalan mungil Desa Cipicung, diapit oleh pemandangan sawah dan perkebunan. Mengak kita untuk mengunjunginya, sembari tafakur alam, mensyukuri karunia alam dari Allah SWT.
Sabtu, 5 Maret 2017
Penulis: Papa Putri (dudi akasyah)
Kamis, 01 September 2016
Keutamaan Sabar
KEUTAMAAN SABAR
Dudi Akasyah
Mukadimah
Seseorang yang memiliki sifat sabar berarti orang itu telah memiliki sebagian dari sifat-sifat orang yang baik kedudukannya di bumi. Orang sabar akan memiliki kedudukan yang baik di tengah-tengah masyarakat. Seseorang yang diberikan kesabaran oleh Allah berarti orang itu telah menerima pemberian yang sangat baik dan pemberian yang sangat luas dibandingkan dengan pemberian lainnya. Nabi Muhammad bersabda:
Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran (HR. Bukhari Muslim)
Definisi
Sabar artinya menahan diri, yaitu menahan diri dari hal-hal yang tidak diridhai Allah Taala. Sabar adalah kemampuan di dalam mengendalikan nafsu yang sering membujuk dan memprovokasi. Termasuk sabar adalah (1) Menahan marah (2) Memaafkan atau memberi maaf. Di dalam semua situasi, peranan sabar sangat dibutuhkan. Di saat sempit kita membutuhkan kesabaran, demikian juga di saat lapang.
Sabar di saat Sehat maupun Sakit
Di saat sakit kita membutuhkan kesabaran agar tidak meratapi, putus-asa, sumpah serapah, dan sejenisnya; lebih baik diisi dengan dzikir dan berpasrah kepada Allah. Di saat sehat juga membutuhkan sabar, yaitu: tidak menggunakan sehat untuk hal yang tak ada manfaatnya, tidak merusak kesehatan, dan tidak menyalahgunakan sehat untuk maksiyat. Di saat sehat, nafsu sering menyuruh untuk berbuat dosa; hal itu dapat dicegah melalui sabar.
Sabar di saat Sempit maupun Lapang
Kita membutuhkan sabar di saat sedang diuji dengan sebuah kesulitan, yaitu: menjauhi putus asa, menahan marah, tidak menyalahkan orang lain, ridha atas pembagian dari-Nya, dan tidak mengumpat orang lain. Di saat lapang, kesabaran juga dibutuhkan, sebab godaan dikala sehat tak kalah banyaknya. Sabar di saat lapang berfungsi menghalau datangnya godaan-godaan tersebut.
Godaan di saat miskin berupa bujukan melakukan kejahatan dan dorongan menjadi peminta-minta, keduanya (meminta-minta dan berbuat jahat) merupakan godaan di saat miskin. Ada ulama mengatakan, bahwa kesabaran di saat miskin lebih ringan dibandingkan kesabaran di saat kaya; di saat miskin yang dipikirkan hanya bagaimana mencari sesuap nasi; di saat kaya yang dipikirkan bagaimana membelanjakan kekayaan secara tepat di saat banyak godaan mengelilinginya serta menghadapi banyak orang iri dengki (banyak yang tidak lulus uji di saat seperti itu).
Kunci Sabar
Di dalam menjalani kesabaran, kunci utamanya yaitu menahan diri dari dorongan nafsu yang muncul dari dalam (internal) dan pengaruh dari luar (eksternal). Upaya-upaya sabar ditempuh juga melalui menjaga hati, menjaga mulut, dan menjaga tingkah-laku. Melalui sabar perilaku orang akan lebih terkontrol. Untuk menjaga kesabaran, perlu melaksanakan shalat, puasa, dzikir, membaca Al-Quran
Sabar di dalam Shalat
Di saat shalat kita juga membutuhkan kesabaran, seperti: menjauhi kemalasan, belajar konsentrasi, mempersiapkan diri sebelum shalat, dan menjalani shalat dengan sabar. Sabar di dalam menjauhi godaan penghambat shalat, sabar di dalam mengendalikan nafsu, sabar di dalam meningkatkan kualitas (khusyu) dan kuantitas shalat (sabar di dalam menjalani shalat 5 waktu dan berupaya menambah shalat-shalat sunah). Shalat merupakan inti dari penghambaan kita kepada Allah, oleh sebab itu setan dan nafsu selalu menghambat shalat, kita perlu sabar di dalam mempertahankan shalat.
Sabar dalam ibadah
Di saat akan melaksanakan ibadah, banyak godaan yang muncul, misalnya: "bujukan untuk menunda-nunda serta membikin alasan-alasan lain." Seringkali kita dilalaikan dengan berbagai kesibukan, padahal kita tahu bahwa yang tersisa dalam hidup/yang akan dibawa mati adalah ibadah, sebagaimana disampaikan dalam Al-Quran bahwa tugas manusia adalah ibadah.
Kita perlu sabar dalam ibadah, ibadah merupakan prioritas utama. Kita perlu sabar di dalam mengatur kegiatan lain sehingga semua aktifitas kita bisa mendukung kegiatan ibadah. Melalui hal demikian, kita akan memiliki waktu untuk membaca Al-Quran, berdzikir, dan melaksanakan ibadah lainnya sehingga kita dapat menjalin hubungan sebaik mungkin dengan Allah Taala.
Menjalankan ibadah membutuhkan kesabaran, baik di kala meraihnya maupun mempertahankannya. Percayalah, bahwa kesabaran akan berbuah kebaikan dan akan melahirkan lebih banyak kebaikan sehingga hidup kita akan lebih baik dari waktu ke waktu. Ketika manusia mati, maka semuanya akan meninggalkan kita, ibadah itulah yang akan terus menemani. Sabar hanya sebentar, setelah itu hasilnya kekal.
Sabar dalam beramal
Sabar dibutuhkan saat mengerjakan amal, yaitu bagaimana agar kita tekun dalam beramal. Menjalani amal setiap hari, setiap saat, setiap waktu; tentu, hal itu sangat membutuhkan sabar. Ketika kita sedekah, kita perlu sabar di dalam menyingkirkan tamak yang ada dalam diri, sabar di saat setan berbisik, atau sabar di dalam menghadapi cacian atau pujian orang-orang. Inti dari sabar dalam beramal adalah bangkit untuk berbuat kebaikan, bersedekah harta, sedekah ilmu, sedekah tenaga, sedekah doa, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya.
Kita perlu sabar di dalam menunaikan amal, terus beramal meski hambatan menerjang. Buah dari kesabaran dalam beramal akan mengantarkan kita pada ketekunan di dalam berbuat baik, ketangguhan, dan kegigighan dalam beramal-salih.
Eksistensi (kedudukan) manusia di tengah-tengah manusia lainnya adalah dilihat dari amal salihnya (perbuatan baiknya). Kesabaran dalam beramal akan memberikan masa depan yang sangat menggembirakan. Semoga kita diberikan oleh Allah berupa sabar, istiqamah, ikhlas, dan amalan yang diterima oleh-Nya, amin ya Rabbal 'alamin.
Penutup
Sabar merupakan nasihat Allah yang sering kita jumpai di dalam Al-Quran. Hal ini menunjukan bahwa dalam segala situasi, maka kesabaran senantiasa kita butuhkan. Tidak ada suatu saat yang tidak membutuhkan kesabaran. Kehidupan adalah seperti sebuah jalanan yang panjang. Bagaimana pun juga kondisi jalannya maka selalu dibutuhkan kesabaran. Demikian pula dengan kehidupan manusia, segala situasi yang yang menimpanya dibutuhkan kesabaran agar sampai ke tempat tujuan (akhirat) dengan selamat dan bahagia.
Rabu, 01 Jumadil Awal 1437 H / 10 Februari 2016 M
Jam 17.53 WIB
____________Mozaik Islam
KEISTIMEWAAN KA'BAH
Ka'bah memiliki banyak keistimewaan. Dari sekian banyak keistimewaan Ka'bah, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Ka'bah, merupakan tempat ibadah tertua di dunia. Direnovasi oleh Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail. Ka'bah pertama kali dibangun oleh malaikat, kemudian oleh Nabi Adam as.
2. Jarum kompas tidak berfungsi di sekitar ka'bah di saat kita menggunakannya, sebab di sana merupakan pertemuan antara kutub utara dengan kutub selatan (zero magnetism area).
3. Kota Mekkah dimana Ka'bah berada merupakan wilayah di dunia yang memiliki tingkat gaya gravitasi yang tinggi yang membuat kekebalan tubuh sangat bagus yang membuat rata-rata usia penduduk lebih panjang. Tak heran, jika anda sepulang dari tanah suci terlihat lebih muda dan muka bercahaya.
4. Kota Mekkah dan Madinah merupakan tempat yang paling terang di bumi, hal ini setelah diamati dari ruang angkasa. Bahkan, empat astronot Rusia Andrey Borisenko, Alexander Samokutyaev, Anton Shkaplerov, serta penerjemah mereka Boris Meshcherykov, ketika berkunjung ke Lembaga Ilmu Penelitian Antariksa OASIS (PSSO) Arab Saudi pada Sabtu (10/11/2012) mengakui bahwa Kota Mekkah dan Madinah terlihat sangat terang meski gambar diambil pada malam hari (Kota New York atau Las Vegas saja gelap, pen).
5. Berdasarkan beberapa penelitian ditemukan bahwa Kota Mekkah berada tepat di tengah-tengah bumi, kota Mekkah merupakan wilayah 0 bujur sangkar. Seharusnya dasar penentuan waktu bukan di Greenwich (Inggris) tetapi Kota Mekkah.
6. Ka'bah sebagai tempat thawaf dan pusat ibadah imat Islam, dan di saat thawwaf (mengelilingi ka'bah) berlawanan dengan arah jarum jam, menjelaskan teori bahwa ketika putaran suatu energi berlawanan dengan arah jarum jam maka energi itu akan terpancar ke atas. Ditambah lagi dengan shalat selama 24 jam silih berganti di berbagai negara yang arahnya tertuju ke ka'bah akan melahirkan energi dahsyat di sekitar ka'bah, disambut dengan thawaf maka seperti mesin generator yang kekuatannya kemudian naik ke atas menuju langit, menembus alam semesta. Gerakan thawaf menunjukan rotasi. Demikian juga bumi, matahari, planet, galaksi, galaksi super cluster; semuanya berputar mengikuti aturan Tuhan. Tak dapat dibayangkan jika bumi keluar dari jalur maka tabrakan besar dan tabrakan beruntun akan terjadi menghancurkan semesta raya. Karena itu sebagai manusia, kita perlu berjalan sesuai dengan fitrah (sumber: edi abdullah, www.kompasiana.com).
Selasa, 02 September 2014
Kamis, 21 Agustus 2014
Disorientasi Demokrasi Indonesia, Realitas Rakyat Menolong Caleg
DISORIENTASI
DEMOKRASI INDONESIA
Realitas
Rakyat Menolong Caleg
Chairil A Adjis & Dudi Akasyah
Pragmatisme yang Berantai
Realitas
menunjukan bahwa masyarakat yang mencoblos caleg memiliki paradigma
"menolong caleg" agar mendapat kursi DPR/DPRD. Di sisi lain, caleg
pun tidak mendidik rakyat, mereka dengan naif
meminta kepada masyarakat agar memilih dirinya, slogan caleg: "berilah
saya kesempatan menjadi anggota dewan." Ada juga caleg yang mengaku bahwa
"ia ingin menjadi anggota dewan adalah untuk meningkatkan taraf hidupnya,
ingin memperbaiki nasib (mengadu nasib), atau ingin meningkatkan status
sosialnya."
Dia
mengaku bahwa perkataannya itu adalah kejujuran, namun apakah tipe seperti ini
orangnya yang akan memajukan kepentingan orang banyak, padahal niat awalnya
saja untuk kepentingan sendiri. Jika paradigmanya demikian maka wajar jika
warga ingin dibayar untuk mencontrengnya.
Sebelum
caleg menjabat maka ia sudah merencanakan hal-hal apa saja yang akan dilakukan
untuk mendatangkan keuntungan finansial dirinya. Mustahil ia mampu merencanakan atau mengkonsepsikan
rencana kemaslahatan bangsa.
Kenapa Caleg yang Diusung Parpol Tidak
memiliki Kapasitas
Kenapa
caleg yang diusung parpol tidak memiliki kapasitas? Sebab partai yang merekrut
bukan memandang kapasitas caleg melainkan kepentingan pragmatis, yaitu caleg
yang populer, bukan caleg yang memiliki kapasitas. Caleg memiliki popularitas
dapat berdasarkan kapasitas, sensasi, artis, dan politik uang. Yang menjamur
subur pada pileg sekarang adalah partai memilih sosok populer dari artis dan
kalangan berduit.
Jika
demikian siapa yang bisa memberikan pendidikan politik? Partai politik, bertujuan pragmatis yakni dorongan mendulang suara
dengan cara instan dengan cara merekrut caleg dari kalangan berduit dan artis. Caleg tak mampu menjabarkan
konsep-konsep demokrasi kepada masyarakat. Dan masyarakat (calon pemilih) memandang caleg dan politik hanya
terbatas kepada menolong caleg agar duduk di kursi empuk sehingga mereka pun
lebih memandang siapa caleg yang memberinya bantuan instan sebagaimana layaknya
bantuan sembako dan mie instan.
Kini
tidak ada lagi pihak yang dapat mengajarkan tentang konsep ilmiah dari sistem
demokrasi: kepentingan jangka pendek, jangkah menengah, dan jangka panjang
untuk stabilitas bangsa dan negara; semua kalangan sudah terjebak dengan sisi
buruk dari demokrasi yaitu ambisi kekuasaan dan kepentingan pragmatis. Tidaklah
mengherankan jika output yang
ditimbulkan adalah kerusuhan, demo, dan konflik yang tak berkesudahan, di sisi
lain perekonomian negara makin terpuruk, ancaman disintegrasi, dekadensi moral,
dan lunturnya semangat nasionalisme. Hal inilah sebenarnya ancaman terbesar
bangsa.
Sebuah
negara yang disibukkan dengan urusan konflik internal maka negara itu tak akan
melangkah menuju negara yang lebih baik, bahkan sebaliknya jika dibiarkan maka
bersiaplah menuju jurang keterpurukan nasional.
Antar caleg satu partai saja saling
sikut memperebutkan suara
Berdasarkan
kesaksikan salah-seorang Caleg bernama N, dari partai D, di Propinsi Bali. Ia
telah mendapatkan 1.000 suara, dan teman satu partainya bernama I mendapat 14
suara. Namun, I mengkalim dia pemenangnya padahal yang dia peroleh hanya 14,
formulir C1 hasil penghitungan KPU Kabupaten dipegang caleg I. Caleg N meminta
agar Caleg I membuka formulir C1 agar bisa dilihat bersama-sama namun namun I
tidak mau.
Caleg
N mengetahui bahwa suaranya yang awalnya 1.000 menjadi menurun ke angka 200,
yang berarti ia terancam gagal menduduki kursi DPRD Kabupaten. Kasus yang
menimpa Caleg N ternyata banyak menimpa caleg yang lainnya.
Proses
penghitungan dimulai dari TPS, KPU Kabupaten, dan seterusnya rentan dengan
campur tangan Caleg yang sangat berambisi. Ternyata Caleg harus mempersiapkan
uang banyak, tidak hanya saat hajatan pencoblosan melainkan setelah pemilu
selesai, caleg juga harus "mengawal" surat suara agar tidak dicuri
oleh caleg lain, pengawalan dimulai dari berbagai TPS, KPU Kabupaten, KPU
Propinsi, sampai pusat. Tentunya, stok uang para caleg harus tetap tersedia,
untuk membiayai agar suara yang telah diperoleh tidak hilang di tengah jalan,
jangan sampai kasus yang menimpa beberapa caleg terpilih yang akhirnya "gigit
jari" tak jadi melenggang ke kursi dewan yang terhormat.
Politik
itu bagus jika digunakan untuk mengkritisi pemimpin yang tidak adil, namun
politik dapat merusak jika dilakukan terhadap pemimpin yang adil. Sebab iklim
politik selalu memunculkan intrik. Sejarah menunjukkan bahwa pemimpin yang adil
lebih banyak ketimbang pemimpin yang tidak adil, itulah kenapa jaman dulu
peradaban lebih mudah terbentuk.
Pemilu ulang yang Merugikan
Terlepas
dari kesalahan di KPU atau teknis di lapangan, bahwa pemilihan ulang telah
merugikan aktifitas rakyat. Kebanyakan pemilihan ulang diakibatkan oleh
kekecewaan caleg karena suaranya kalah. Kekecewaan seperti itu adalah
subyektif, bukan kekecewaan orang banyak (masyarakat). Kekecewaan caleg yang
merugikan rakyat
Kita
lihat, ketika mereka hendak mencontreng, mereka naik ojek ke TPS, mereka
mengeluarkan uang untuk sekedar mengganjal perut menunggu antrian
pencontrengan, pekerjaan di sawah mereka tinggalkan, harusnya hari itu mereka
memperoleh nafkah dari mata pencahariannya.
Kenapa
faktor kepentingan rakyat tidak dipertimbangkan? Pencoblosan ulang itu menyita
waktu rakyat yang ke sawah ladang. Jangan hanya lantaran kekecewaan atau
perseteruan antar caleg maka rakyat yang dikorbankan. Kita lihat, hasilnya
partisipasi masyarakat saat pencoblosan ulang sangat rendah, mereka lebih
memilih bekerja untuk menafkahi keluarga, hal itu tentu lebih realistis jika
kita juga diposisikan seperti mereka.
Sekarang
sudah bukan saatnya lagi memperkenalkan pentingnya pemilu, sebab rakyat sudah memandang
bahwa pemilu itu tak lebih dari sekedar memanggul caleg agar duduk di
kekuasaan.
Kampanye
yang disampaikan tentang wawasan kebangsaan dan nasionalisme tak akan berarti
apa-apa, sebab "TST (tahu sama tahu) lebih bergema mengalahkan segalanya.
Misi
dari pihak yang berkampanye adalah bagaimana supaya rakyat mencontreng saya,
dan di sisi lain rakyat pun berpikir sumbangan materi apa yang akan Caleg
berikan untuk saya. Caleg memberi “sesuatu” kepada rakyat maka rakyat pun akan
memberi suara.
Warga yang mencontreng perlu diberi
konsumsi?
Ada
anekdot dari para warga yang hendak memilih, mereka mengatakan bahwa biasanya
kalau menghadiri suatu undangan maka mereka selalu disediakan
prasmanan/konsumsi. Namun jika memenuhi undangan pencontrengan tidak disediakan
apa-apa. Padahal untuk menghadiri TPS mereka kadangkala datang dari kampung
yang berbeda, membawa keluarga yang otomatis harus membawa uang untuk membeli
jajanan. Di TPS mereka juga harus antri di tengah terik matahari, menahan haus
dan lapar, apalagi di kanan kiri berjejer para pedagang.
Padahal
warga sengaja datang meninggalkan pekerjaan. Pegawai negeri dan pegawai swasta
memang diliburkan, tetapi mereka tetap memperoleh gaji. Kalau rakyat
meninggalkan pekerjaan (berdagang/bertani/nelayan) jika meninggalkan pekerjaan
maka dari mana mereka dapat makan.
Logikanya,
apakah pemilih yang harus membawa bekal makanan atau konsumsi ke tempat
pencontrengan, kasihan mereka haus dahaga untuk memenuhi undangan Pemilu.
Sebaliknya,
para caleg, jika mereka telah duduk di kursi dewan, setiap rapat mereka
disediakan konsumsi, uang rapat, gaji bulanan, berbagai fasilitas, tokh mereka tidak juga memenuhi undangan
rapat, hal ini terbukti dengan ruang rapat yang kebanyakan kursi kosong
melompong, padahal di tiap-tiap meja tersedia minuman segar lengkap dengan
katering.
Kertas surat suara yang tidak efisien
memberi efek psikologis yang kurang baik
Melihat
kertas suara yang harus diisi rakyat, formnya sangat menyulitkan. Kalangan
terdidik pun banyak yang menilai bahwa banyaknya partai ditambah dengan
nama-nama caleg sangat tidak efisien. Jika dibaca semua maka pemilih akan
stress. Hal itu diungkapkan oleh kalangan terdidik, lalu bagaimana jika dibaca
oleh masyarakat awam, baik di perkotaan apalagi di perkampungan. Yang patut disalahkan,
sebenarnya rakyat atau yang mengonsep (konseptor) surat suara? Adakah terpikir
oleh para steakholder untuk melakukan
efisiensi dan langkah-langkah memudahkan saat pencoblosan berlangsung. Terlepas
dari kepentingan individu yang ada dalam tubuh setiap partai, atau kepentingan
antara satu partai dengan partai lainnya, maka sangat dibutuhkan suatu misi
bersama untuk mempermudah rakyat di dalam pelaksanaan pemilu, sebab jika partai
dan para calegnya tidak mau tertib maka jangan disalahkan apabila masyarakat
pun berlaku tidak tertib.
Rakyat ingin nyaman saat memilih
Pemilu
seyogyanya menjadi hari yang menyenangkan bagi rakyat untuk memilih calon
pemimpin. Namun, banyak dari mereka yang saat datang tak bisa menyalurkan hak
pilihnya karena namanya tak tercantum dalam daftar pemilih. Para warga tersebut
akhirnya dimohon menunggu dari jam 08.00 sampai jam 12.00 guna menyampaikan hak
pilihnya.
Ada
di antara mereka yang menunggu, namun banyak pula yang memilih pulang untuk
melanjutkan aktifitas keseharian, ke pasar, ke kebun atau sawah ladang.
Ironis,
di satu sisi banyak nama pemilih yang tercantum namun tak menggunakan hak
pilihnya, dengan alasan sudah tidak berdomisili di tempat yang bersangkutan,
ada juga yang meninggal dunia namun namanya masih tetap tercantum di Daftar
Pemilih Tetap (DPT). Ibarat mobil bis, banyak tempat duduk yang kosong, saat
ada penumpang, tidak diperbolehkan masuk.
Jika
partai politik atau caleg khawatir dengan "rombongan pencoblos
bayaran," bukankah hal itu jarang terjadi, kalaupun antisipasi, maka KPPS
dapat mengidentifikasi sebab mereka bukan warganya.
Yang
banyak terjadi, namun yang hingga kini belum ada regulasi, adalah warga yang
tinggal di sana dan dikenal oleh masyarakat namun mereka tidak dapat memilih
dengan alasan tidak tercantum dalam DPT. Di sisi lain, KPPS tidak bisa
melakukan "ijtihad/korespondensi" sebab takut dituduh
menyalah-gunakan wewenang. Sebenarnya kasus "rombongan pemilih
bayaran" jauh lebih sedikit frekuensinya, ketimbang kasus warga yang tidak
memperoleh daftar pemilih.
Banyaknya
kasus warga yang tidak memperoleh undangan patut mendapat perhatian pada pemilu
mendatang.
Penyelenggara Pemilu yang Terlalu
Percaya Diri
Para
pembuat kebijakan lebih terpengaruh oleh opini partai atau caleg, daripada
opini masyarakat.
Opini
partai/caleg cenderung untuk mengawal kepentingan mereka. Rumitnya aturan
pemilu lebih disebabkan oleh paranoid
bahwa partainya akan dicurangi oleh partai lain sehingga dibuatlah
aturan-aturan "aneh," getahnya yang dirasakan masyarakat adalah bahwa
pemilu banyak aturan, rakyat bukannya difasilitasi atau dipermudah, melainkan
dipersulit dan diperumit. Kenapa hal ini terjadi? Sebab pemerintah
(penyelenggara pemilu) lebih mendengarkan suara caleg ketimbang suara rakyat,
akibatnya rakyat dihadapkan kepada berbagai kesulitan saat pencontrengan.
Parpol hanya berkegiatan di saat Pemilu
Melihat
cara kerja partai politik, mereka hanya bekerja saat menjelang pemilu (Prof.
Miriam Budiarjo, 2013:398). Setelah selesai pemilu, maka partai seolah
menghilang di masyarakat, kemudian muncul lagi saat akan ada pemilu. Politik
yang disosialisasikan kepada masyarakat sangat mudah menjemukan, sebab politik
selalu membahas kekuasaan dan perbincangan siapa yang akan duduk dan siapa yang
tersingkir. Tujuan parpol adalah kekuasaan. Siapa saja mereka yang masuk parpol
maka ia memiliki kans menjadi pejabat publik. Sebagaimana dikatakan Giovani
Sartori bahwa parpol mampu menempatkan calon-calonnya untuk menduduki jabatan
publik
...and
is capable of placing through elections candidates for public office (G.
Sartori, 1976).
Sosialisasi
yang berlebihan kepada masyarakat tentang politik yang notabene bermuatan
ambisi kekuasaan maka akan cepat menimbulkan kejenuhan di kalangan masyarakat
(calon pemilih), sebab yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah implementasi.
Yang ingin mereka rasakan adalah kesejahteraan, terjaminnya perekonomian,
pendidikan, kesehatan, perlindungan hukum, dan keamanan.
Rakyat bosan memilih: Bukan pesta
demokrasi tetapi beban demokrasi
Banyaknya
pemilu (nasional, provinsi, kabupaten, pilihan kepala desa, dan pilihan ketua
RW), dan bersebarannya spanduk/poster telah mengotori lingkungan. Secara fisik,
lingkungan kotor, dan secara mental ambisi kekuasaan telah mengotori ketulusan
dan keluguan masyarakat pedesaan. Sebab, poster-poster yang berfoto muka orang
sebenarnya merupakan hal tabu jika bercermin kepada budaya ketimuran, jika
menggunakan istilah anak sekolah, poster atau selebaran yang ada foto orang
atau nama biasanya disebut "lebay" atau "narsis."
Perkampungan
yang asri kini telah dikotori oleh poster dan foto, pohon-pohon rindang dipaku
sebagai tempat poster. Satu pohon bisa dipaku hingga 10 poster, mulai dari
poster calon Ketua RW, calon Kepala Desa, Calon Bupati, Calon Gubernur, Calon
Presiden dan puluhan poster calon legislatif.
Bersebarannya
poster merupakan pendidikan politik yang kurang baik, merusak keasrian,
ketulusan, merusak pemandangan alam dan pemandangan hati.
Gambar partai (Surat Suara) perlu lebih
disimpelkan
Berdasarkan
pengamatan di lapangan, banyak dari masyarakat yang berharap bahwa gambar
partai/jumlah partai disederhanakan saja agar tidak menyulitkan para pemilih.
Surat
suara yang tidak efisien dapat menganggu aspirasi calon pemilih. Warna gambar
yang hampir sama dapat mengelabui pemilih, serta banyak lagi efek yang kurang
bagus apabila surat suara tidak disederhanakan. Logikanya, jika hanya
mencontreng tiga kali, kenapa harus dihadapkan kepada 100 item yang rumit.
Letaknya yang belum diketahui membuat calon pemilih terpaksa harus mengerutkan
dahi berlama-lama untuk mengetahui partai yang hendak dipilih. Hal itu, belum
termasuk masyarakat yang buta hurup, lanjut usia, atau yang memiliki
keterbatasan penglihatan.
Setelah
berakhirnya Era Orde Baru, para politisi euporia
dengan kebebasan berpolitik. Warisan Orde Baru dipandang harus diganti
semuanya, diganti dengan ide yang baru. Perombakan total akhirnya berakibat
menyulitkan diri sendiri. Mereka yang merombak total akhirnya termenung
sendiri, dan semoga nanti mereka mengevaluasi bahwa tidak semua konsep orde
baru harus dihapuskan. Cukup banyak warisan pemimpin terdahulu yang perlu
dipertahankan. Meskipun sebagiannya ada yang harus dihilangkan atau diperbaiki.
Banyak caleg yang divonis hakim karena
politik uang
Di
akhir masa pilihan legislatif (pileg), banyak caleg yang divonis bersalah di
pengadilan. Hal itu berbuntut dengan didiskualifikasinya caleg untuk duduk di
kursi kekuasaan. Mereka mengatakannya "apes" sebab tidak mungkin
politik tanpa disertai dengan uang. Jika ditelusuri semua politisi yang berebut
suara maka semuanya akan terkena jeratan politik uang. Hal ini akan menambah
deretan panjang caleg stress sehingga semakin menurunkan pamor demokrasi itu
sendiri.
Seharusnya Caleg lebih tahu tentang
demokrasi daripada masyarakat, bukan sebaliknya.
Realitas
menunjukkan bahwa banyak caleg sekarang yang diusung parpol memiliki
pengetahuan politik yang sangat kurang.
Hal
ini akan menimbulkan disorientasi dari demokrasi menjadi kepentingan pribadi.
Keterbatasan pengetahuan tentang politik bagi caleg mengakibatkan mereka
menjelma menjadi orang-orang yang ambisius dengan kekuasaan. Di sisi lain, jika
tergelincir atau tidak lolos dari pileg maka mereka akan dijangkiti penyakit
musiman yaitu sakit jiwa (stress). Jika melihat sepak terjang Caleg maka kini rakyat
yang sebenarnya lebih tahu tentang carut marut demokrasi, mereka yang terjun di
dunia politik (caleg) hanya menjadi tumbal politik.
Sebagai
contoh: Ketika mereka (caleg) memberi sumbangan pengaspalan jalan kemudian ia
tidak terpilih, selanjutnya si caleg memerintahkan agar aspalnya diambil lagi
dan mengatakan bahwa masyarakat telah mengkhianati dirinya. Rakyat hanya bisa
tertawa dan mengatakan bahwa oknum caleg telah menjadi orang gila, apa bisa
aspal dicabut lagi dari jalan.
Ajang Demokrasi atau Ajang Audisi
Banyak
politisi senior mengeluh sebab suara untuk dirinya jeblok dikalahkan oleh pendatang baru yang jor-joran mengeluarkan dana kampanye.
Suksesi
sekarang tak ubahnya ajang audisi yang didukung oleh sms dari para pemirsa,
siapa calon yang kiriman smsnya lebih banyak maka dialah pemenangnya. Kiriman
sms atau perolehan suara tidak bisa dijadikan parameter kapasitas. Ada juga
rakyat menolong caleg sebab kasihan ia sudah kehabisan dana, jika tidak
dicontreng maka caleg itu akan stress setelah pileg.
Ada
juga anggapan, bahwa caleg harus orang kaya agar banyak cadangan harta untuk
membiayai dana kampanye. Apabila demikian maka politik dan kekuasaan hanya
berpihak kepada orang kaya. Orang kaya akan semakin korup dan kesenjangan
sosial akan semakin merusak.
Substansi
pemimpin bangsa sebenarnya bukan terletak kepada faktor kaya miskin. Seorang
pemimpin atau negarawan sejati adalah ia yang peduli dan bertanggung-jawab
terhadap nasib bangsanya, melakukan karyanya untuk bangsa, memiliki visi dan
misi yang revolusioner untuk memajukan bangsanya.
Jika
diibaratkan dengan sebuah keluarga. Jika negara lain sudah dapat berbuat
banyak, namun di suatu keluarga hanya berkutat kepada masalah internal yang
semakin carut marut. Melihat potensi yang ada di Indonesia, hanya sistem yang
perlu dibenahi, di samping pembenahan dalam bidang yang lainnya. Sumber daya
alam sudah cukup, yang belum adalah optimalisasi sumber daya manusia.
Sebenarnya
banyak ide brilian dari para cendikiawan, negarawan atau ilmuwan di negeri ini,
namun suara ambisi kekuasaan masih jauh lebih lantang sehingga suara kebenaran,
akal sehat dan inspirasi menjadi teredam dengan sendirinya.
Jargon "jangan salah-pilih"
yang tidak populer
Slogan
seperti itu sebenarnya kurang populer, sebab semua orang telah berasumsi bahwa
setiap kandidat, baik itu caleg maupun capres; mereka adalah orang-orang
terpilih. Logikanya, siapa pun yang terpilih maka hal itu adalah baik, sebab
diambil dari beberapa orang yang baik.
Jika
ada slogan "jangan salah pilih" maka slogan itu akhirnya bertentangan
dengan asumsi di atas. Pendapat yang muncul adalah ambisi pribadi yang
menganggap dirinya yang lebih pantas dan berharap dukungan dari rakyat untuk
menolong si calon duduk di kursi kekuasaan.
Jika
slogan "Jangan salah pilih" terbukti keberadaannya, maka berarti
seleksi individu melalui mekanisme partai politik adalah telah gagal sebab
parpol bukannya melahirkan pemimpin yang berkualitas melainkan hanya mampu
mengirimkan kucing-kucing dalam karung sebagai kandidat pemimpin bangsa.
Kapan Politik dan Suksesi Kepemimpinan
Dibutuhkan
Politik
hanya efektif jika dilakukan terhadap penguasa yang zalim namun politik
merupakan rencana jahat jika ditujukan kepada pemimpin yang baik.
Jika
politik dijadikan satu-satunya cara dalam suatu penyelenggaraan negara maka
selama itu pula negara akan labil, tidak akan pernah stabil. Sebab politik
awalnya diciptakan hanya untuk instabilitas.
Politik
tanpa dilembagakan juga akan tetap muncul jika yang berkuasa berlaku
sewenang-wenang, namun pendirian lembaga politik akan menjadi bumerang jika
ditujukan kepada kepemimpinan yang kharismatik, pro rakyat, dan stabilitas
dalam segala bidang. Jika demikian maka warga yang memberinya lowongan kerja.
Kita
tidak dapat melihat atau memojokkan masyarakat saja tentang fenomena rakyat
ingin diberi uang dari caleg. Kenapa paradigma itu terbentu? Apa dasar
pemikiran masyarakat melakukan hal demikian. Jika ditelusuri bahwa dari
sebagian pemilih memandang bahwa pencoblosan (pencontrengan) mereka adalah
untuk membantu caleg agar duduk di kursi kekuasaan, jika motivasinya menolong,
maka perlu ada timbal balik dari yang ditolong (caleg), inilah paradigma yang
berkembang. Fenomena tersebut merupakan penyelewengan dari tujuan demokrasi itu
sendiri.
Sejatinya
politik itu merupakan sikap yang idealis sebab ruang lingkupnya yang menyangkut
hajat hidup orang banyak yang menyebabkan politik harus idealis. Namun dalam
kenyataannya, politik banyak ditunggangi ditunggangi kepentingan pragmatis,
baik dari calon legislatif maupun dari calon pemilih.
Berbagai pengarahan tak ada gunanya
selama sistem masih bertolak-belakang dengan idealisme
Sejatinya,
politik itu mengajarkan konsep yang ideal: ilmiah dan alamiah. Ilmiah, bermakna bahwa suatu kebijakan
sepatutnya berdasarkan kepada aspek ilmu pengetahuan, mengingat bangsa dan
negara merupakan suatu lembaga besar yang membutuhkan kebijaksanaan dan
keadilan universal.
Alamiah
bermakna, bahwa lahirnya sosok/calon pemimpin merupakan produk dari
penggemblengan di masyarakat, lahir dari perjuangan, terobosan, inovasi yang
eksistensinya diakui oleh masyarakat luas. Lawan kata dari alamiah adalah instan, apabila paradigma instan dipakai
maka orang tiba-tiba bisa terkenal cukup dengan membuat 1.000 spanduk dan
intensitas iklan di media massa, maka dalam sekejap orang tersebut dapat
dikenal luas.
Kapasitas
individu hanya dapat diperoleh melalui proses yang alamiah, mustahil bisa
ditemukan dalam sistem yang instan. Sebenarnya tidak sulit untuk menelusuri
siapa saja yang memiliki kapasitas pemimpin di negeri besar seperti
Indonesia—tidak lebih sulit daripada quick
count yang berupaya memprediksi pemilu—Jika diumpamakan kolam, banyak
ikan-ikan besar yang layak mendapat perhatian dan kharismatik, namun karena air
kolam dibuat keruh oleh ambisi politisi, ikan besar tak terlihat, ikan teri
yang didapat.
Langganan:
Postingan (Atom)






